Bayang Reka Television  on Flash Media merupakan Streaming TV dengan system looping playback.

Sekretariat:
Bugel mas Indah D9-1,Karawaci,Tangerang, Indonesia - 15113
Phone/Fax: (021) 5517190
Email: bayangrekatv@yahoo.com
Bayang Reka Television on Flash Streaming Media
Hak Cipta @ Bayang Reka Television - Po Box 638 Tangerang 15001 Indonesia Phone: 021-5517190 e-mail: bayangrekatv@yahoo.com
Menganalisa dan bersikap kritis dalam mengenali Alzheimer

Alzheimer dapat disebabkan karena faktor genetik dan faktor non genetik. Pada orang yang terkena Alzheimer karena faktor genetik (bawaan orang tua), mereka mengidap Alzheimer di bawah usia 65 tahun atau usia muda. Namun pada orang yang terkena Alzheimer akibat faktor non genetik, terutama yang paling banyak berpengaruh adalah faktor usia, maka semakin tua usia seseorang (khususnya di atas 65 tahun) akan semakin rentan orang tersebut mengidap Alzheimer. Namun yang perlu digaris bawahi adalah, kasus penderita Alzheimer di bawah usia 65 tahun karena faktor genetik (bawaan orang tua) sangat jarang ditemukan, sementara yang seringkali / banyak ditemukan adalah kasus penderita Alzheimer di atas usia 65 tahun.

Perbedaan Alzheimer dan penyakit ingatan lainnya

Untuk dapat membedakan Alzheimer dengan penyakit lainnya, Anda harus terlebih dahulu menguasai definisi Alzheimer dan gejalanya (yang telah diuraikan di atas) baru kemudian melakukan perbandingan dengan kasus penyakit terjadi. Apabila penyakit tersebut benar-benar sesuai dengan definisi dan gejala Alzheimer, bukan hanya sekedar mirip atau serupa, maka penyakit tersebut dapat dipastikan adalah penyakit Alzheimer. Di bawah ini akan diberikan contoh bagan untuk melakukan perbandingan antara kriteria Alzheimer dengan kasus yang dialami Wulan.

1. Alzheimer dapat disebabkan karena faktor genetik dan non-genetik (terutama faktor usia)

2. Orang yang menderita Alzheimer mengalami perubahan kepribadian menjadi benar-benar kacau, penuh curiga, takut atau menjadi bergantung pada keluarga, serta memunculkan mood yang tidak tentu (seperti: takut kemudian marah tanpa ada alasan yang jelas)
   

3. Lupa secara bertahap mulai dari yang paling jarang ditemui hingga yang cukup sering ditemui.
   

3. Melupakan orang yang paling sering ditemuinya namun tetap mengingat orang-orang yang jarang ditemuinya

4. Lupa lebih sering terhadap informasi yang baru dipelajari, seperti: nama orang yang baru dikenalnya, cara menghidupkan HP yang baru dipelajarinya, dll.

5. lupa yang bersifat: progresif dan permanen. Progresif berarti semakin lama semakin memburuk. Permanen berarti jika sudah lupa akan orang-orang tertentu maka dia tidak akan bisa tiba-tiba teringat kembali

6. Tersesat di daerah sekitar rumahnya sendiri / daerah yang dikenalnya dengan baik.

5. Pada tahap gejala menengah, seseorang sudah kehilangan kemampuan dasar untuk melakukan aktivitas sehari-hari, seperti: berbicara, makan, mandi, buang air kecil, buang air besar, berpakaian, dll.

Untuk dapat menilai suatu penyakit termasuk kategori penyakit A, maka seluruh gejala penyakit A harus terpenuhi pada penyakit tersebut. Jika hanya sekedar mirip atau ada sedikit kesamaan maka belum dapat dikatakan bahwa penyakit tersebut adalah benar penyakit A. Melainkan harus ditelusuri lebih jauh termasuk dalam kategori penyakit yang manakah penyakit tersebut.

Kami memiliki 22 room flash streaming edisi terbaru, yang semuanya bisa anda download secara bebas.
Untuk menikmatinya silahkan tekan tombol perak maka anda akan terhubung dengan beberapa room studio streaming kami.


Alzheimer

Menurut Whitbourne (2003), Alzheimer dikenal sebagai salah satu penyakit yang paling sering ditemui sebagai penyebab demensia. Demensia adalah suatu penyakit penurunan fungsi kognitif/gangguan intelektual/daya ingat yang umumnya semakin lama semakin memburuk (progresif) dan tidak dapat diubah (irreversible). Demensia menyebabkan penderitanya kesulitan untuk menjalani aktivitas sehari-hari dan berhubungan sosial. Demensia yang disebabkan oleh Alzheimer, berarti demesia yang disertai oleh perubahan patologis di otak penderitanya. Waktu penyebaran penyakit Alzheimer pada seseorang bervariasi mulai dari 5 hingga 20 tahun, dan kematian yang terjadi seringkali disebabkan karena infeksi.

Faktor resiko utama seseorang mengidap Alzheimer adalah usia, yaitu semakin tua usia seseorang (khususnya setelah usia 65 tahun) maka semakin rentan orang tersebut mengidap Alzheimer. Menurut National Alzheimer's Association (2003), penyakit Alzheimer menyerang hingga 10 % dari orang berusia 65 tahun atau lebih, dan secara berangsur proporsi ini berlipat ganda setiap 10 tahun setelah usia 65 tahun. Dan sebanyak separuh dari populasi yang berusia 85 tahun atau lebih dapat dipastikan mengidap Alzheimer. Sementara, pada orang yang memiliki faktor genetik turunan / bawaan dari orang tua, penyakit ini akan menyerang di bawah usia 65 tahun. Namun, kasus seperti ini cukup jarang ditemukan.

Gejala Alzheimer

Berdasarkan National Alzheimer's Association (2003), gejala Alzheimer dibagi menjadi 3 tahap, yaitu:

Gejala ringan

    * Lebih sering bingung dan melupakan informasi yang baru dipelajari
    * Disorientasi: tersesat di daerah sekitar yang dikenalnya dengan baik
    * Bermasalah dalam melaksanakan tugas rutin
    * Mengalami perubahan dalam kepribadian dan penilaian

Gejala menengah

    * Kesulitan dalam mengerjakan aktivitas hidup sehari-hari, seperti makan dan mandi
    * Cemas, curiga, dan agitasi
    * Mengalami gangguan tidur
    * Keluyuran
    * Kesulitan mengenali keluarga dan teman.

Pertama-tama yang akan sulit untuk dikenali adalah orang-orang yang paling jarang ditemuinya, mulai dari nama, hingga tidak mengenali wajah sama sekali. Kemudian bertahap kepada orang-orang yang cukup jarang ditemui.

Gejala akut

    * Sulit / kehilangan kemampuan berbicara
    * Kehilangan nafsu makan, menurunnya berat badan
    * Tidak mampu mengontrol buang air kecil dan buang air besar
    * Sangat tergantung pada caregiver/pengasuh

Alzheimer's Disease and Related Disorders Association (2001), juga membuat 10 gejala penyakit Alzheimer Demensia yang sering muncul, sebagai berikut:

1. Hilang ingatan. .

2. Sulit untuk mengerjakan tugas yang familiar. .

3. Bermasalah dengan bahasa.

4. Disorientasi waktu dan tempat.

5. Lemah atau kurang baik dalam mengambil keputusan.

6. Bermasalah dengan pemikiran abstrak. 

7. Salah menempatkan segala sesuatu.

8. Perubahan mood atau tingkah laku.

9. Perubahan kepribadian.

10. Kehilangan inisiatif. .

Apabila seseorang mengidap beberapa dari gejala di atas, maka sebaiknya ia segera menemui dokter untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh.
Sekelumit  tentang Bayang
Bayang Reka Television telah menjadi ada sebagai rasa sayang kami terhadap Sdri. Bayang Reka Pradini (alm) yang begitu atensi terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pengentasan budaya disekitarnya.


Bayang Reka Pradini dilahirkan pada tanggal 16 Desember 1989 dan dipanggil Tuhan pada tanggal 12 Januari 2006. Kendati usianya yang masih relatif muda, perhatiannya terhadap musik menjadi bagian yang begitu penting bagi kami. Bayang Reka Pradini menjadi inspirasi kami untuk terus menerus berkarya, tidak harus dengan upaya yang rumit,     sederhana  namun berarti terutama bagi diri sendiri dan bagi orang lain. Bayang Reka Television adalah sisi lain dari usaha untuk tetap menghidupkan semangat Bayang Reka Pradini di dunia ini. Kekuatan dasar yang menopang semangat kami adalah kegigihan pahlawan kecil kami, yang terus menerus berupaya untuk tetap eksis disetiap tempat, setiap waktu, bahkan mungkin sampai saat ini, Bayang masih terus melihat kegigihan kami juga untuk terus mengabadikan perjuangannya.
Sejak usia TK, Bayang selalu menjadi juara kelas, dan kecerdasannya memang sudah tampak sejak ia berusia 2 tahun. Ketika suatu saat ia mampu menhafal tulisan " air susu ibu tanda kasih sayang dan mencerdaskan kita semua" dan tentu membuat kami semua terperanjat waktu itu. Sampai ia berusia 13 tahun tidak pernah ada tanda-tanda kelemahan fisik pada dirinya. Hobinya adalah olahraga Volley dan musik (terutama mencipta lagu dan menyanyi). Namun rupanya Tuhan berkehendak lain. bayang yang begitu taat terhadap Tuhannya, justru dipanggil dalam usia yang masih sangat relatif muda (16 tahun). Namun... kami bangga karena diberi kesempatan melahirkan dan mendampingi Bayang sampai pada usianya yang ke -16.

Jaringan TV-Flash Media
Jaringan TV-Flash Media
Situs TV- online dengan koneksi terbatas
Penanganan Alzheimer
Penanganan terhadap penyakit Alzheimer dapat dilakukan melalui 2 pendekatan: pharmacological dan nonpharmacological. Berdasarkan pendekatan pharmacological, penanganan yang dilakukan terhadap Alzheimer dilakukan dengan menggunakan obat-obatan, satu-satunya obat yang dapat digunakan adalah obat-obat yang mengandung acetylcholinestrase (AchE) inhibitor seperti: tacrine, donepezil HCL, rivastigmine, dan galantamine..
Pemakaian obat-obatan ini harus merujuk pada anjuran yang dikemukan oleh dokter / psikiater. Karena pemakaian obat-obatan ini ditentukan oleh dosis, dan waktu pemberian, serta memiliki efek samping. Pengobatan lain yang dapat digunakan namun masih dipertanyakan mengenai keefektifannya nya adalah ginkgo biloba, vitamin E, C, dan B.

Pendekatan nonpharmacological melakukan penanganan terhadap penyakit Alzheimer tanpa menggunakan obat-obatan, tujuan dari pendekatan ini adalah untuk mengatur/me-manage tingkah laku dan gejala kognitif pasien. Tujuan sekunder dari pendekatan ini adalah untuk mengurangi beban caregiver (pengasuh atau perawat, biasanya dari pihak keluarga pasien). Penanganan dengan menggunakan pendekatan nonpharmacological sangat bermanfaat ketika pengobatan tidak dapat dilakukan karena pasien tidak mampu mentoleransi efek samping pengobatan atau tidak menyetujui/mengikuti instruksi pengobatan, atau membantah pengobatan. Pendekatan nonpharmacological dilakukan dengan menggunakan terapi, seperti: terapi behavioral management techniques, the pleasant event schedule (PES), music therapy, strategi/ modifikasi lingkungan, animal assisted therapy, morning bright light therapy, ECT. Melalui pendekatan nonpharmacological ini, penderita Alzheimer menjadi lebih mengenal, dan lebih siap menghadapi penyakitnya, serta lebih dapat me-manage dirinya sendiri (Litchtenberg, dkk., 2003).

Penanganan terhadap caregiver

Dalam melakukan penanganan terhadap penderita Alzheimer, yang paling berperan penting adalah caregiver dan keluarga. Caregiver dan keluarga akan sangat menentukan apakah penyakit penderita Alzheimer tersebut akan semakin memburuk dengan drastis ataukah memburuk namun dengan sangat lambat karena kemunduran akibat penyakit tersebut dapat diperlambat oleh caregiver.

Caregiver berperan dalam memotivasi penderita Alzheimer, pada caregiver yang mengalami stres dalam menangani penderita Alzheimer, maka kondisi penderita Alzheimer yang ditanganinya akan semakin memburuk dalam waktu yang cepat. Disini menunjukkan bahwa caregiver dan penderita Alzheimer dapat saling mempengaruhi satu sama lain. Dengan tanggung jawab caregiver untuk mengasuh penderita Alzheimer, mulai dari makan, pengobatan, mandi, dsb. setiap hari, maka tidak heran jika caregiver mengalami stres bahkan tidak jarang juga sampai depresi. Oleh karena itu, caregiver sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya, termasuk dari para ahli melalui pendekatan nonpharmacological, sehingga penderita Alzheimer caregiver dapat lebih siap menghadapi penderita Alzheimer, lebih memahami penderita Alzheimer dan siap merawatnya (Litchtenberg, dkk., 2003).
Sebagian keadaan yang diizinkan Tuhan untuk terjadi, tentu konflik itu memiliki kegunaan. Soal kita gunakan untuk yang positif atau yang negatif, ini kita yang dipersilahkan untuk memilih. Jika kita berhasil memilih penggunaan yang positif, hasilnya berupa dinamika, kemajuan, dan pencapaian. Bayangkan kalau kita tidak dikasih konflik diri? Pasti dinamika tidak ada. Ilmu pengetahuan dan teknologi terhenti perkembangannya. Industri pun akan mati.
Tapi jika kita memilih membiarkan, mengabaikan, atau melampiaskannya dalam kemarahan, entah terhadap diri sendiri, orang lain, atau keadaan, maka tidak menutup kemungkinan konflik itu dapat membangun rentetan gangguan, dari mulai stress, depresi, sampai ke disorder (kekacauan sistemik dalam jiwa). Ibarat mesin, gangguan itu merupakan kotoran yang menganggu kinerja atau bisa merusaknya.





Jika menelaah paparan para ahli mengenai apa saja gejala buruk dari gangguan jiwa itu, maka secara globalnya bisa disimpulkan dua hal berikut, yang variannya bermacam-macam:  

    *
      Membuat orang menjadi terlalu pasif: acuh tak acuh, memendam kebencian dan kedendaman, antisosial, tak peduli tarhadap rangsangan positif, suka mengkhayalkan datangnya keajaiban tanpa usaha, dan seterusnya
    *
      Membuat orang terlalu agresif: komunikasinya mengancam, keputusannya ngawur, mudah tersulut untuk melakukan tindakan di luar batas, egonya terlalu tinggi, dan seterusnya. 

Jika itu terjadi hanya pada satu orang, karena ada pemicu riilnya, dan sifatnya temporer (reaktif sesaat), tentu masih dapat dikontrol. Tapi jika itu sudah meng-umum, dipicu oleh sketsa yang sudah kacau, dan berlangsung lama (membudaya di masyarakat), maka peradaban sebuah bangsa akan terancam. Akan semakin banyak orang Indonesia yang malu untuk mengatakan bangsa kita suka damai, tenang, dan toleran, karena faktanya tidak begitu.
Pada titik inilah kita punya landasan yang bisa menjembatani rententan kesimpulan bahwa konflik-diri itu memiliki keterkaitan dengan seringnya terjadi agresi massa di kita. Bahwa ada keterkaitan yang nantinya disebut causatif (sebab langsung) atau correlative (sebab tidak langsung), ini mungkin bisa dibedakan berdasarkan keadaan dan kasus.

Di tahun 2000, saya dilibatkan dalam tim untuk mengundang pelamar yang akan diseleksi untuk mengisi beberapa lowongan kerja di kapal pesiar di Eropa. Mereka yang minimal berpendidikan D3, berpengalaman di bidangnya, bisa berbahasa asing minimal Inggris, dan seterusnya, kita undang lewat koran, yang tentunya suka rela dan free.
Karena harus diseleksi tingkat elektabilitasnya, emploibilitasnya, dan dokumennya, maka mau tak mau harus ngantri sesuai dengan urutan dan posisi yang ingin dilamar. Tak lama setelah antrian berjalan, tiba-tiba ada sekelompok orang yang bikin gaduh dengan membawa protes agresif yang isinya kira-kira begini: ”Pak, saya ke sini ini sudah ijin kerja, tidak bisa saya nunggu lama-lama di sini, saya harus diseleksi sekarang, pokoknya!” Tentu protesnya tidak bisa dipenuhi karena proses seleksi harus berjalan sesuai dengan antrian. Kawan saya yang berusaha ”memasukkan ke hati” mengatakan  protes semacam itu tidak waras. ”Kita tidak mau asal terima orang, kita mengundangnya suka rela, kenapa mereka memaksa?”, dan masih panjang lagi komentarnya.
Setelah kita sering melihat sidang DPR ditayangkan langsung di TV, ternyata protes agresif semacam itu kita jumpai juga di sidang yang terhormat. Untuk urusan jam makan, waktu sholat, atau interupsi, orang bisa berdebat panjang lebar hingga terlontar kata-kata yang sudah keluar konteks. Padahal, di sidang yang terhormat itu pasti sudah ada aturan bakunya.
Pertanyaannya, sudah pantaskah kita menyebut protes agresif itu sebagai perilaku yang tidak logis? Jika kita hanya melihat tindakannya semata, mungkin saja orang bisa mengatakan kurang logis, tetapi kalau dilihat apa yang melatarbelakanginya, mungkin saja itu akibat kausatif yang wajar, alias memang seperti itu konsekuensi yang harus diterima. Kalau membaca teori-teori yang membahas agresi sosial, sedikitnya ada dua sumber yang bisa menjelaskan kenapa massa itu mudah agresif, yaitu:

   1. Pertama, learned mass agression—materinya sudah diproses lama dalam jiwa sejumlah individu yang disebut massa. Ini misalnya orang sudah berpikir kalau tidak pakai kekerasan, usaha untuk didengar akan gagal, sudah lama ditekan sehingga saatnya memuntahkannya, pelampiasan kekecewaan, tayangan, dst.
   2. Kedua, unlearned mass agression—terjadi secara spontan karena ikut-ikutan, karena naluri untuk mempertahankan diri atau untuk menciptakan keamanan, misalnya diserang oleh kelompok, dihakimi secara tidak adil, menjumpai maling yang tertangkap basah, dst.

Dari yang bisa kita amati terhadap agresi massa yang kerap terjadi, ada banyak bukti yang bisa untuk mengatakan bahwa the unlearned mass agression tidak terlalu berperan banyak dalam meng-anjlok-kan kualitas peradaban sebuah bangsa. Di banyak kasus, agresi ini tidak memiliki sebab-sebab yang berantai  dan secara umum masih terbilang manusiawi, meski tidak bisa dibenarkan. Tapi, untuk yang the learned mass agression, ini kerapkali sudah ruwet karena ada dua pihak yang telah sama-sama membangun sebab-sebab berantai. Misalnya tayangan televisi. Secara sepihak, kita bisa mengatakan stasiun TV-nya yang salah, kenapa agresi ditampilkan. Tapi, kalau melihat alasan dari pihak stasiun TV-nya, mungkin bukan itu logikanya.
Logika yang sering dipakai dunia industri, termasuk media televisi, adalah karena masyarakat kita menikmati tayangan sensasi dan ini terkait dengan rating. Rating itu ada kaitannya dengan iklan, dan iklan itu terkait dengan hidup-matinya stasiun TV. Apakah kita mau kembali ke model TVRI tempo doeloe? Ini hanya contoh yang sepele.
Pendidikan Berorientasi Kematangan 
Sama sekali bukan sebuah harapan yang tepat untuk mengandalkan lembaga pendidikan agar dapat berperan full mengatasi agresi massa. Pendidikan punya masalah internal dan eksternal. Pendidikan sudah berbuat banyak, meski hasilnya belum banyak.Tapi, kira-kira, hanya kepada pendidikanlah kita bisa lebih banyak berharap. Mau kita mengharapkan keluarga atau masyarakat, kini sudah semakin banyak orangtua yang harus bekerja di luar rumah, bukan untuk kaya, tetapi untuk sekedar survive mengimbangi semakin tidak berdayanya penghasilan rupiah dengan inflasi, serbuan barang konsumsi, dan budaya serba uang.
Dilihat dari apa yang masih bisa dilakukan oleh pendidikan terkait dengan agresi, maka salah satu yang penting adalah menjalankan proses pendidikan yang berorientasi pada kematangan jiwa (mental dan moral skill), bukan semata job / academic skill. Ini antara lain dapat ditempuh dengan menanamkan sikap yang co-operative dan mekanisme kreatif dalam menyikapi perbedaan yang sudah tidak bisa disamakan atau dalam mengelola gap.
Sebagai contoh, sampai nanti kiamat, agama Tuhan di bumi ini tidak satu dan berbeda luarnya, meski esensinya sama. Jika kita masih menanamkan sikap konfrontatif agar agama itu harus satu dan sama, berarti kita telah menitipkan kebencian dan mengajarkan mekanisme yang depresif pada generasi. Sudah nyari kerjaan susah, masih juga kita bebani untuk saling membenci.
Selain perlu ada nilai yang mendasari sikap co-operative dan mekanisme kreatif itu, perlu juga metode pengajaran yang meng-explore, bukan men-depresi, memberi tantangan, bukan memberi tekanan. Misalnya, untuk supaya bisa dibilang hebat oleh wali murid, kita menggenjot siswa dengan PR atau ekstrakurikuler yang tidak kita barengi dengan upaya mematangkan mentalnya. Siswa menderita stress kerja karena incompatible antara kematangan dan pekerjaaan.Yang juga sangat penting adalah kualitas attachment antara guru dan murid. Hubungan guru dan murid akan kering apabila hanya didasari transaksi, profesi, atau materi. Perlu hubungan yang didasari oleh nilai, kedekatan personal yang sangat human sehingga memunculkan secure attachment, kedekatan yang memberi support dan comfort.
Hasil riset psikologi, seperti dikutip Judith R. Harris (The Child: 1991), memberikan petunjuk, anak yang kurang mendapat secure attachment dari orang dewasa di sekitarnya akan cenderung agresif, kurang kompeten dalam menghadapi kemalangan, auranya kurang periang, gampang ngamuk menyikapi perbedaan. Mungkin, sekolah yang kultur dan iklimnya kurang bersahabat, dapat memicu gaya hidup siswa yang agresif juga.
Melihat Berbagai Dimensi 
Agresi massa yang kata pengamat semakin cenderung meningkat di kita, sepertinya tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi dan dimensi. Bagi negara, ini harus dilihat sebagai koreksi, kenapa bangsa saya gampang ngamuk dan mudah disuruh bunuh diri dengan iming-iming surga? Bagi masyarakat, tekanan eksternal harus kita sikapi dengan meningkatkan mekanisme internal supaya lebih tertantang untuk maju, bukan selalu memuntahkannya keluar. Semoga bisa kita jalankan.
      Isi Komentar
      Nama Anda :    
      Komentar Anda :    
           
Lihat Komentar (1)
Teori di Balik Agresi

1. Pertama, learned mass agression—materinya sudah diproses lama dalam jiwa sejumlah individu yang disebut massa. Ini misalnya orang sudah berpikir kalau tidak pakai kekerasan, usaha untuk didengar akan gagal, sudah lama ditekan sehingga saatnya memuntahkannya, pelampiasan kekecewaan, tayangan, dst.
   2. Kedua, unlearned mass agression—terjadi secara spontan karena ikut-ikutan, karena naluri untuk mempertahankan diri atau untuk menciptakan keamanan, misalnya diserang oleh kelompok, dihakimi secara tidak adil, menjumpai maling yang tertangkap basah, dst.

Dari yang bisa kita amati terhadap agresi massa yang kerap terjadi, ada banyak bukti yang bisa untuk mengatakan bahwa the unlearned mass agression tidak terlalu berperan banyak dalam meng-anjlok-kan kualitas peradaban sebuah bangsa. Di banyak kasus, agresi ini tidak memiliki sebab-sebab yang berantai  dan secara umum masih terbilang manusiawi, meski tidak bisa dibenarkan. Tapi, untuk yang the learned mass agression, ini kerapkali sudah ruwet karena ada dua pihak yang telah sama-sama membangun sebab-sebab berantai. Misalnya tayangan televisi. Secara sepihak, kita bisa mengatakan stasiun TV-nya yang salah, kenapa agresi ditampilkan. Tapi, kalau melihat alasan dari pihak stasiun TV-nya, mungkin bukan itu logikanya.
Logika yang sering dipakai dunia industri, termasuk media televisi, adalah karena masyarakat kita menikmati tayangan sensasi dan ini terkait dengan rating. Rating itu ada kaitannya dengan iklan, dan iklan itu terkait dengan hidup-matinya stasiun TV. Apakah kita mau kembali ke model TVRI tempo doeloe? Ini hanya contoh yang sepele.
Pendidikan Berorientasi Kematangan 

Hasil riset psikologi, seperti dikutip Judith R. Harris (The Child: 1991), memberikan petunjuk, anak yang kurang mendapat secure attachment dari orang dewasa di sekitarnya akan cenderung agresif, kurang kompeten dalam menghadapi kemalangan, auranya kurang periang, gampang ngamuk menyikapi perbedaan. Mungkin, sekolah yang kultur dan iklimnya kurang bersahabat, dapat memicu gaya hidup siswa yang agresif juga.
Melihat Berbagai Dimensi 
Agresi massa yang kata pengamat semakin cenderung meningkat di kita, sepertinya tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi dan dimensi. Bagi negara, ini harus dilihat sebagai koreksi, kenapa bangsa saya gampang ngamuk dan mudah disuruh bunuh diri dengan iming-iming surga? Bagi masyarakat, tekanan eksternal harus kita sikapi dengan meningkatkan mekanisme internal supaya lebih tertantang untuk maju, bukan selalu memuntahkannya keluar. Semoga bisa kita jalankan.
Hak Cipta @ Bayang Reka Television - Po Box 638 Tangerang 15001 Indonesia Phone: 021-5517190 e-mail: bayangrekatv@yahoo.com
WEB LINK:
Konflik Diri & Agresi
Konflik diri adalah keadaan dis-harmony yang terjadi di dalam diri seseorang.  Bisa karena gap antara harapan dan kenyataan, antara keinginan dan paksaan, atau antara idealita dan realita. Intinya, konflik-diri timbul dari dua sebab yang sangat sinergis, yaitu ketidakmampuan internal (penentu) dan kondisi eksternal (pemicu).
HOME        ABOUT US        ACTUAL NEWS        ARSIP        BRAIN        CYNEMA        DANGEROUS ZONE       FLORA        FAUNA        HEALTH        HIGHWAY          ILMIAH
JOURNEY        KIDS        KULINER        KONFLIK        MAN        MISTERI     MUSIK        PLANET        PSYCHOLOGY        REKAYASA           SPORT     TRAVELING
TRAGEDI         UNPLUGE        WOMAN        X-FILE
All about Psychology:
Video Artikel Lainnya:

Pengaruh Stress terhadap Memori Seseorang

Mengenal Metode Lovaas

Terapi Neurofeedback

COMPLEMENTARY THERAPHY & PHYSICAL THERAPHY

THERAPHY SENSORI INTEGRASI

Anorexia Nervosa

Depresi

Alzheimer

"Theory of Mind" pada Remaja Down Syndrom dan Penyandang Gangguan Perkembangan Mental

Gangguan Mental Ternyata Penyakit Keturunan

Psikopatologi  Anak dan Remaja Termasuk Prediksi Pengalaman Delusional Seperti  yang Dialami Individu Dewasa